Harga Kubah Masjid Enamel Di Jawa Timur

Category: Uncategorized Comments: No comments

Masjid Agung Kota Blitar adalah salah satu bangunan ibadah kuno, tempat dengan banyak kisah sejarah panjang dalam lambang-lambang Islam dan juga pengembangan komunitas khusus penghuninya di sekitar kota Blitar. Secara administratif, masjid ini terletak di pusat Kota Blitar, di sebelah barat Alun-alun Kota Blitar.


Harga Kubah Masjid Enamel Di Jawa Timur

Untuk mengungkap sejarah pendirian Masjid Agung Kota Blitar, telah dilaporkan kepada salah satu penjaga kantor Yayasan Masjid Agung Kota Blitar, Izul (28). Dari data dan berbagai sumber yang diperoleh, menurut sejarah, Kabupaten Blitar masih disebut Kabupaten Srengat. Pada saat itu, KY.R. orang yang bertindak sebagai kepala atau hakim agama Islam di Kabupaten Srengat. Mohammad Kasiman.

Setelah nama Kabupaten Srengat diubah menjadi Kabupaten Blitar, ini terjadi pada tahun 1820, pada saat itu pemimpin pertama adalah KY.R. Imam Besari, tempat didirikannya Masjid Agung Blitar. 

Awalnya, bangunan masjid ini terdiri dari bangunan yang terbuat dari bypass dan juga ditutupi dengan sirap (dinding bambu tipis yang terbuat dari kayu jati) dan berdiri kokoh di sisi utara Jembatan Kali Lahar di Desa Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Sekilas, Masjid Agung Blitar yang saat ini berada di sebelah barat alun-alun terlihat seperti bangunan tahun 1960-an, di mana bangunannya terdiri dari dua lantai dengan kolom beton dan ada juga menara putih yang menjulang tinggi. 

Terutama di sebelah kanan (selatan) ada juga bangunan bertingkat dengan desain yang cukup kaku, yang tidak menunjukkan bangunan tua. Namun, jika Anda melihat lebih dalam, kesan lama sebuah bangunan sangat terasa. Di bagian dalam masih ada ubin lama, juga kolom dan juga balok yang masih menggunakan kayu jati besar.

Meski bentuk dan juga bahannya masih dibuat dengan bahan sederhana, masjid ini sepertinya bertahan selama bertahun-tahun yang akan datang, yang sangat minim pada saat itu, bencana yang membahayakan bangunan masjid. 

Hal ini karena tidak mungkin bahwa masjid ini akan 100% terhindar dari bencana, dan hal tersebut juga terungkap bahwa beberapa pemimpin agama Islam juga sempat menyatakan bahwa mungkin ada berbagai jenis bencana alam yang akan terjadi pada Masjid Blitar Besar.

Memang, masjid agung Kota Blitar di tepi aliran lava membuat masjid rentan terhadap serangan dan serangan dari aliran lahar dingin dari Gunung Kelud. Dan ini telah tercatat setidaknya tiga kali ketika lava dingin ini menghantam bangunan masjid, yaitu pada tahun 1826, 1835 dan 1848.

Selama banjir ketiga, yang terjadi pada tahun 1848, masjid rusak parah. dan juga menunjukkan bahwa bencana yang disebabkan oleh letusan Gunung Kelud, letusan Gunung Kelud tidak hanya merusak tubuh utama masjid, tetapi telah secara signifikan mempengaruhi pemikiran tentang kelayakan Srengat sebagai ibukota Blitar. 

Pemerintah terganggu oleh seringnya terjadi aliran lahar. Apalagi banjir juga menghancurkan bekas kediaman bupati.

Jadi setelah bencana tahun itu, pemerintah pusat Kota Blitar dan juga masjid agung secara bersamaan dipindahkan ke tempat yang sekarang dihuni. Jadi pada saat itu, Bupati Blitar dipegang oleh Raden Mas Aryo Ronggo Hadinegoro,

Sementara itu beliau juga merupakan kepala yang juga menjadi panitia dalam pembangunan  Masjid Jami ‘yaitu Kyai Raden Kamaludin, yang mana beliau ini seorang keturunan dari salah satu ulama terkenal pada masa itu yakni Kasiman dan beliau ini dahulunya pernah menjabat sebagai camat di  Srengat, yang mana kemudian belaiu digantikan oleh kepala III Kyai R. Kasan Soehodo yang telah ditunjuk oleh Kyal Raden mas ngabei pada tanggal 31 Maret 1946 hingga 1848.

Pada saat itu, bupati menunjuk sebuah negara di sebelah timur sebagai Bumi Kanjengan (batas barat Jalan Masjid, sebelah timur Sungai Urung – Urung, selatan Jalan Merdeka – Jalan A. Yani, utara Jalan Anjasmoro – Jl. Pahlawan seperti yang terlihat hari ini). 

Maka dapat dipastikan bahwa di kediaman Kanjeng gusti inilah yang nantinya dapat berfungsi dengan sangat baik guna berlangsungnya beberapa macam acar serta kegiatan yang terkait dengan bisnis dalam kehidupan sehari-hari, dan di kediaman resmi yang sudah sejaka lama tidak ditempati oleh Bupati akan dibangun sebuah kompleks perbelanjaan yang berada tepat di sebelah timur gedung Dipayana, yang pernah digunakan sebagai kantor CPM).

Sementara di bagian barat Kanjengan hingga Sungai Lahar, pengaturan dibuat oleh Bupati Blitar untuk membangun masjid dan menempatkan etnis Arab di utara masjid ke arah barat. Dulunya dikenal sebagai Kampung Arab, setelah mengalami perkembangan itu menjadi Kauman. Melalui kohesi untuk gotong royong, dan ada juga dana dari berbagai pihak, masjid itu bisa dibangun dengan kayu tahun itu (1848).

Pada tahun 1890 Penghulu Blitar, yang saat itu bernama Ky. Imam Boerhan, memiliki inisiatif untuk membangun masjid dari kayu dengan bahan bata. Dengan persetujuan Bupati Blitar, yang kemudian ditahan oleh R. Adipati Warso sujatmiko bin Hadi Koesoemo, dan segera mulai bekerja pada tahap ketiga pembangunan Masjid Agung Blitar. 

Konstruksi dilakukan secara kooperatif pada saat itu. Umat ​​Islam dari berbagai tempat di Blitar, baik di kota kecil maupun kecil, tiba setiap hari untuk melakukan upaya mereka, baik secara moral maupun material. 

Menurut catatan Penghulu, yaitu Bapak Imam Boerhan, dalam kasus pembangunan dimulai pada hari Kamis Kliwon 12 Oktober 1890 AD atau 20 Muharram 1303 H.

Setelah membangun sebuah bangunan pada tahun 1890, masjid agung Blitar setidaknya memiliki beberapa renovasi yang mana renovasi tersebut berdampak pada perbuahan kontruksi pada kubah masjid,dengan menambahkan berbagai macam pilihan bahan serta kekuatan dari masing-masing bahan.

Pemilihan bahan akhirnya disetujui secara bersama dengan bahan enamel,yang mana pada saat itu Harga Kubah Masjid Enamel dikategorikan sebagai bahan yang kuat,kokoh namun harga tidak begitu selangit dan terdapat pula beberapa tambahan  berupa elemen dari baja ringan. 

Ketika waktu itu juga dibarengi dengan proses pembangunan sebuah gerbang yang kala itu pernah dibuat pada tahun 1927 dan kemudian tepatnya setahun kemudian, atau pada tahun 1928, dibangun pula sebuah menara yang kemudian diletakkan di sisi bagian kanan (selatan) masjid. 

Dan pada tahun 1933, masjid diperluas dengan penambahan beranda di sebelah kanan dan juga di sebelah kiri, yang semuanya dirancang oleh KH. Muchsin Kusaini Bin Dawuhan Harjokemi, di mana beliau ini sebetulnya masih kerabat dekat dengan almarhum Imam Boerhan Bin Abdul Asegaf.

Bagaimanapun, desainnya ini sampai saat ini pun masih bertahan sampai sekarang, yang mana masih menjadi bagian dari masjid saat ini.

Namun sebuah gerbang dan menara runtuh akibat bencana alam, yaitu gempa yang melanda Kota Blitar pada 20 Oktober 1958.

Kemudian pada tahun 1966 muncul pemikiran seorang pemikir kritis bernama HM Bachra Pakunden Bin Rosadi Kusumo, salah satu keturunan Ky. Imam Boerhan, untuk membangun kembali menara yang rusak. Keinginan ini hanya dapat direalisasikan mulai 10 Agustus 1967 dengan berdirinya Kantor Konstruksi Masjid Agung Kodya / Distrik. Blitar bersama ketuanya Walikota Blitar R. Prawirokoesoemo.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>